Karate berasal dari pengucapan dalam bahasa Okinawa “kara” yang berarti Cina dan “te” yang berarti tangan. Selanjutnya arti dari dua pengucapan itu adalah tangan Cina, teknik Cina, tinju Cina. Selanjutnya sekitar tahun 1931 Gichin Funakoshi – dikenal sebagai Bapak Karate Moderen – mengubah istilah karate ke dalam huruf kanji Jepang yang terdengar lebih baik.
Tahun 1936 buku Karate-do Kyohan diterbitkan Funakoshi telah menggunakan istilah karate dalam huruf kanji Jepang. Dalam pertemuan bersama para master di Okinawa makna yang sama diambil. Dan sejak saat itu istilah “karate” dengan huruf kanji berbeda namun pengucapan dan makna yang sama digunakan sampai sekarang.
Saat ini istilah karate berasal dari dua kata dalam huruf kanji “kara” yang bermakna kosong dan “te” yang berarti tangan. Karate berarti sebuah seni bela diri yang memungkinkan seseorang mempertahankan diri tanpa senjata.
Menurut Gichin Funakoshi karate mempunyai banyak arti yang lebih condong kepada hal yang bersifat filsafat. Istilah “kara” dalam karate bisa pula disamakan seperti cermin bersih yang tanpa cela yang mampu menampilkan bayangan benda yang dipantulkannya sebagaimana aslinya. Ini berarti orang yang belajar karate harus membersihkan dirinya dari keinginan dan pikiran jahat.
Selanjutnya Gichin Funakoshi menjelaskan makna kata “kara” pada karate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun demikian sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta lawan tengah menunggu.
Demikianlah makna yang terkandung dalam karate. Karena itulah seseorang yang belajar karate sepantasnya tidak hanya memperhatikan sisi teknik dan fisik, melainkan juga memperhatikan sisi mental yang sama pentingnya. Seiring usia yang terus bertambah, kondisi fisik akan terus menurun. Namun kondisi mental seorang karateka yang diperoleh lewat latihan yang lama akan membentuk kesempurnaan karakter. Akhiran kata “Do” pada karate-do memiliki makna jalan atau arah. Suatu filosofi yang diadopsi tidak hanya oleh karate tapi kebanyakan seni bela diri Jepang dewasa ini (Kendo, Judo, Kyudo, Aikido, dll)
Sumber : http://www.fokushotokan.com/definisi.html
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Sabtu, November 08, 2008
Sabtu, November 01, 2008
Mempersiapkan Karate di PON 2012
Sabtu, 01 November 2008
Karate Riau sangat sulit untuk dapat menunjukkan prestasinya, karena hanya sarana latihan serta dukungan finansial yang cukup bagus akan tetapi sumber daya manusianya masih kurang. Hal ini dapat kita buktikan bahwa sampai saat ini kepengurusan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Provinsi Riau belum solid dan belum dapat berprestasi di tingkat nasional.
Keadaan ini dapat diperkuat dengan beberapa alasan antara lain pasca-Musprov Forki Riau pada Desember 2006 yang lalu sampai saat ini, telah lebih dua tahun, kepengurusan yang terbentuk belum juga dilantik/dikukuhkan oleh PB Forki, sehingga roda organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya karena dijalankan oleh segelintir orang yang hanya mengedepankan kepentingan pribadi, tapi tak dapat bertanggung jawab terhadap peningkatan prestasi. Pekerjaan yang dikerjakan tidak lagi sesuai dengan porsinya, sehingga mencerminkan bahwa organisasi tidak lagi dikelola profesional.
Contoh yang lebih konkret, pada saat pra kualifikasi PON Kaltim, karateka Riau secara nyata tidak ada yang lolos, meski sudah dilatih pelatih nasional asal Sumbar, dan dibantu oleh asisten pelatih lokal. Ironisnya Sumbar bisa merekrut pelatih yang lebih bagus dari Riau, alhasil mampu meloloskan sebanyak delapan orang atletnya untuk dapat bertarung di ajang PON Kaltim.
Berikutnya kemampuan atlet karate Riau kembali diuji pada saat Mendagri Cup di Palembang, karateka Riau ditangani pelatih lokal yang notabenenya adalah asisten pelatih ketika mengikuti pra-PON, hasilnya juga gagal dan tidak satu kepingpun medali dapat dibawa pulang untuk Bumi Lancang Kuning. Meskipun akhirnya Riau juga mengikutsertakan satu orang atlet cabang karate pada PON Kaltim 2008 yang lalu, hal itu merupakan hadiah PB FORKI yang dikenal dengan istilah Wildeard.
Sebagai insan karate kita melihat Provinsi Riau memiliki ratusan bahkan ribuan orang karateka yang berbakat dan tersebar di beberapa daerah bukan hanya di Pekanbaru saja. Akan tetapi mereka perlu mendapat sentuhandan polesan dari pelatih yang benar-benar memiliki kompetensi serta mempunyai kualitas atau bahkan juga memiliki sertifikasi yang jelas, sehingga kemampuannya dalam menstransfer ilmu dapat terukur dan hasil yang ia capai dapat pula dipertanggungjawabkan, apabila ia gagal dan tidak mampu mencapai target yang telah disepakati bisa saja kita istirahatkan atau bahkan kita ganti dengan pelatih yang lainnya.
Kita tidak mengecilkan arti dari pelatih lokal yang ada, mungkin mereka memang mantan atlet, namun kemampuannya dalam menstransfer ilmu dan keterampilan yang ia miliki perlu kita pertanyakan karena selama ini hasil yang telah dicapai jangankan anak asuhnya mampu melebihi prestasi yang pernah ia capai, namun untukmencapai hasil sama saja, anak asuhnya tidak mampu. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa seorang mantan atlet yang hebat belum tentu mampu menghasilkan anak asuh (atlet) yang hebat pula tanpa didukung ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang olahraga (Iptkor). Pada cabang olahraga karate banyak orang yang bisa menjadi pelatih tetapi tidak banyak orang yang mampu melatih sesuai dengan asas dan prinsip latihan.
Menyikapi persoalan di atas, sebagai insan karate yang sangat merindukan bahwa atlet karate Riau mampu meraih prestasi di ajang bergengsi sekaliber PON serta mengharumkan nama Bumi Lancang Kuning, sehingga cabang olahraga karate juga mendapat kesempatan menjadi cabang olahraga yang diunggulkan untuk dapat memperbanyak perolehan medali emas saat Riau menjadi tuan rumah PON 2012 nantinya.
Untuk itu tidak ada jalan lain seperti ungkapan yang telah diutarakan ketua harian KONI Riau ketika pelaksanaan Musprov PSTI Riau bahwa KONI akan melakukan pemantauan terhadap kepengurusan yang telah terbentuk selama satu tahun pertama, apabila tidak dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik maka bisa saja dilakukan Musprovlub. Begitu juga untuk cabang olahraga lainnya.
Sepertinya apa yang dikatakan ketua harian KONI tersebut sangat tepat untuk dijadikan sebagai dasar agar FORKI Riau segera melakukan Musprovlub. Sehingga orang-orang yang ditunjuk untuk mengisi susunan kepengurusan betul-betul orang yang memiliki kompetensi serta mampu mengerjakan pekerjaan yang diembankan kepadanya dan diberi kepercayaan penuh untuk merancang dan melaksanakan program yang dapat memacu peningkatan prestasi karate di Riau ini. Tiap-tiap pengurus harus bekerja sesuai dengan tugasnya dan tidak ada pekerjaan yang tumpang tindih atau sebaliknya one man show. Kemudian pengurus yang ada harus menghargai konsep sistem, sehingga tidak seenaknya mengambil keputusan tanpa dasar yang kuat dan jelas, meskipun bukan merupakan kewenangan yang bersangkutan.
Terlepas dari persoalan di atas masih ada hal yang sangat mengkhawatirkan segenap insan karate di Riau di mana saat ini tidak jelas siapa penentu kebijakan di FORKI Riau sehingga tidak jelas pula kemana arah dan sasaran pembinaan prestasi cabang olahraga karate yang dilakukan oleh FORKI Riau, hal ini telah berlangsung sejak periode kepengurusan FORKI sebelumnya, sehingga kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa peduli dengan peningkatan prestasi yang seharusnya dipertanggungjawabkan kepada KONI Riau.
Melalui wacana ini kita mengimbau segenap pengurus karate yang selama ini telah menunjukkan eksistensinya terhadap kemajuan karate di Riau, serta pengurus FORKI yang se-Riau untuk mendesak agar Forki Riau segera menggelar Musprov, dan kita berharap nantinya KONI Riau juga berkenan memfasilitasi serta merekomendasikan atau bahkan menginstruksikan agar FORKI Riau segera melaksanakan Musprovlub, sehingga terbentuknya susunan kepengurusan yang solid sebagai langkah awal menyongsong Riau tuan rumah PON 2012.***
Drs Syaiful Bahri,
Ketua Keluarga Sabuk Hitam (KSH) INKADO Riau
Karate Riau sangat sulit untuk dapat menunjukkan prestasinya, karena hanya sarana latihan serta dukungan finansial yang cukup bagus akan tetapi sumber daya manusianya masih kurang. Hal ini dapat kita buktikan bahwa sampai saat ini kepengurusan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Provinsi Riau belum solid dan belum dapat berprestasi di tingkat nasional.
Keadaan ini dapat diperkuat dengan beberapa alasan antara lain pasca-Musprov Forki Riau pada Desember 2006 yang lalu sampai saat ini, telah lebih dua tahun, kepengurusan yang terbentuk belum juga dilantik/dikukuhkan oleh PB Forki, sehingga roda organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya karena dijalankan oleh segelintir orang yang hanya mengedepankan kepentingan pribadi, tapi tak dapat bertanggung jawab terhadap peningkatan prestasi. Pekerjaan yang dikerjakan tidak lagi sesuai dengan porsinya, sehingga mencerminkan bahwa organisasi tidak lagi dikelola profesional.
Contoh yang lebih konkret, pada saat pra kualifikasi PON Kaltim, karateka Riau secara nyata tidak ada yang lolos, meski sudah dilatih pelatih nasional asal Sumbar, dan dibantu oleh asisten pelatih lokal. Ironisnya Sumbar bisa merekrut pelatih yang lebih bagus dari Riau, alhasil mampu meloloskan sebanyak delapan orang atletnya untuk dapat bertarung di ajang PON Kaltim.
Berikutnya kemampuan atlet karate Riau kembali diuji pada saat Mendagri Cup di Palembang, karateka Riau ditangani pelatih lokal yang notabenenya adalah asisten pelatih ketika mengikuti pra-PON, hasilnya juga gagal dan tidak satu kepingpun medali dapat dibawa pulang untuk Bumi Lancang Kuning. Meskipun akhirnya Riau juga mengikutsertakan satu orang atlet cabang karate pada PON Kaltim 2008 yang lalu, hal itu merupakan hadiah PB FORKI yang dikenal dengan istilah Wildeard.
Sebagai insan karate kita melihat Provinsi Riau memiliki ratusan bahkan ribuan orang karateka yang berbakat dan tersebar di beberapa daerah bukan hanya di Pekanbaru saja. Akan tetapi mereka perlu mendapat sentuhandan polesan dari pelatih yang benar-benar memiliki kompetensi serta mempunyai kualitas atau bahkan juga memiliki sertifikasi yang jelas, sehingga kemampuannya dalam menstransfer ilmu dapat terukur dan hasil yang ia capai dapat pula dipertanggungjawabkan, apabila ia gagal dan tidak mampu mencapai target yang telah disepakati bisa saja kita istirahatkan atau bahkan kita ganti dengan pelatih yang lainnya.
Kita tidak mengecilkan arti dari pelatih lokal yang ada, mungkin mereka memang mantan atlet, namun kemampuannya dalam menstransfer ilmu dan keterampilan yang ia miliki perlu kita pertanyakan karena selama ini hasil yang telah dicapai jangankan anak asuhnya mampu melebihi prestasi yang pernah ia capai, namun untukmencapai hasil sama saja, anak asuhnya tidak mampu. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa seorang mantan atlet yang hebat belum tentu mampu menghasilkan anak asuh (atlet) yang hebat pula tanpa didukung ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang olahraga (Iptkor). Pada cabang olahraga karate banyak orang yang bisa menjadi pelatih tetapi tidak banyak orang yang mampu melatih sesuai dengan asas dan prinsip latihan.
Menyikapi persoalan di atas, sebagai insan karate yang sangat merindukan bahwa atlet karate Riau mampu meraih prestasi di ajang bergengsi sekaliber PON serta mengharumkan nama Bumi Lancang Kuning, sehingga cabang olahraga karate juga mendapat kesempatan menjadi cabang olahraga yang diunggulkan untuk dapat memperbanyak perolehan medali emas saat Riau menjadi tuan rumah PON 2012 nantinya.
Untuk itu tidak ada jalan lain seperti ungkapan yang telah diutarakan ketua harian KONI Riau ketika pelaksanaan Musprov PSTI Riau bahwa KONI akan melakukan pemantauan terhadap kepengurusan yang telah terbentuk selama satu tahun pertama, apabila tidak dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik maka bisa saja dilakukan Musprovlub. Begitu juga untuk cabang olahraga lainnya.
Sepertinya apa yang dikatakan ketua harian KONI tersebut sangat tepat untuk dijadikan sebagai dasar agar FORKI Riau segera melakukan Musprovlub. Sehingga orang-orang yang ditunjuk untuk mengisi susunan kepengurusan betul-betul orang yang memiliki kompetensi serta mampu mengerjakan pekerjaan yang diembankan kepadanya dan diberi kepercayaan penuh untuk merancang dan melaksanakan program yang dapat memacu peningkatan prestasi karate di Riau ini. Tiap-tiap pengurus harus bekerja sesuai dengan tugasnya dan tidak ada pekerjaan yang tumpang tindih atau sebaliknya one man show. Kemudian pengurus yang ada harus menghargai konsep sistem, sehingga tidak seenaknya mengambil keputusan tanpa dasar yang kuat dan jelas, meskipun bukan merupakan kewenangan yang bersangkutan.
Terlepas dari persoalan di atas masih ada hal yang sangat mengkhawatirkan segenap insan karate di Riau di mana saat ini tidak jelas siapa penentu kebijakan di FORKI Riau sehingga tidak jelas pula kemana arah dan sasaran pembinaan prestasi cabang olahraga karate yang dilakukan oleh FORKI Riau, hal ini telah berlangsung sejak periode kepengurusan FORKI sebelumnya, sehingga kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa peduli dengan peningkatan prestasi yang seharusnya dipertanggungjawabkan kepada KONI Riau.
Melalui wacana ini kita mengimbau segenap pengurus karate yang selama ini telah menunjukkan eksistensinya terhadap kemajuan karate di Riau, serta pengurus FORKI yang se-Riau untuk mendesak agar Forki Riau segera menggelar Musprov, dan kita berharap nantinya KONI Riau juga berkenan memfasilitasi serta merekomendasikan atau bahkan menginstruksikan agar FORKI Riau segera melaksanakan Musprovlub, sehingga terbentuknya susunan kepengurusan yang solid sebagai langkah awal menyongsong Riau tuan rumah PON 2012.***
Drs Syaiful Bahri,
Ketua Keluarga Sabuk Hitam (KSH) INKADO Riau
Sabtu, Oktober 11, 2008
Nakayama - Antara Legenda & Kontroversi
Posturnya terlihat tegap dan kuat. Sorot matanya tajam, kadangkala terkesan dingin bagi beberapa orang. Sebagian mengaguminya sebagai figur yang berwibawa dengan keahlian karate yang tidak diragukan lagi. Sebagian membencinya karena tindakannya yang dianggap melanggar larangan sang guru. Kontroversial, adalah kata yang sering melekat padanya. Namun tidak diragukan lagi, dia juga salah satu loyalis dari Bapak Karate Moderen. Jika Funakoshi menyebarkan karate di Jepang, maka dirinya telah menyebarkan karate ke penjuru dunia.
Masatoshi Nakayama adalah salah satu tokoh awal karate Shotokan. Namanya terkenal karena merubah fungsi karate sebagai kompetisi olah raga, sebuah cita-cita yang tidak pernah diinginkan oleh Funakoshi yang menggunakan karate sebagai “do”. Dilahirkan di Prefektur Yamaguchi tanggal 13 April 1913, Nakayama masih mempunyai hubungan dengan klan Sanada yang legendaris. Keluarga Nakayama secara turun-temurun menguasai bela diri tradisional Jepang. Naotoshi (ayahnya) belajar judo sedangkan Naomichi (kakeknya) terkenal sebagai instruktur kendo ternama. Antusias pada bela diri agaknya mengalir dalam darah Nakayama yang juga berlatih kendo dan judo sejak anak-anak.
Saat usianya beranjak remaja, Nakayama pindah ke Taiwan untuk meneruskan sekolahnya. Sebagai anak muda yang bersemangat, Nakayama terlibat dalam banyak kegiatan klub seperti atletik, renang, tennis dan ski. Meski sangat sibuk Nakayama tidak melupakan latihan kendonya. Sang kakek sangat gembira melihat cucunya menggeluti bela diri yang sama dengannya. Dirinya berharap agar kelak Nakayama akan mengikuti jejaknya sebagai instruktur kendo. Namun ternyata hal lain justru ada dalam benak Nakayama. Belajar di Taiwan agaknya menimbulkan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk pergi Cina. Namun saat itu tidak mudah mencapainya karena dibutuhkan biaya yang tinggi. Nakayama kemudian memilih Universitas Takushoku untuk mewujudkan impiannya. Saat itu lulusan Takushoku memang banyak dikirim ke negara Asia untuk bekerja atau sebagai wakil Jepang.
Tahun 1932 diam-diam Nakayama mengikui tes masuk di Universitas Takushoku dan berhasil lulus. Nakayama sangat beruntung karena Takushoku terkenal sebagai universitas dengan koleksi bela diri tradisional Jepang yang lengkap. Dengan demikian dirinya tidak perlu susah-susah melanjutkan latihan kendonya. Saat jadwal latihan untuk seluruh kegiatan klub akhirnya diterbitkan, Nakayama ternyata keliru membaca jadwal latihan kendo yang terbalik dengan karate. Begitu datang ke dojo, Nakayama baru menyadari bahwa dirinya hadir di hari yang salah. Meski kecewa, Nakayama tidak langsung pulang, melainkan ingin melihat latihan karate dari dekat.
“…Di surat kabar aku telah membaca tentang karate, namun aku tidak begitu banyak mengetahuinya, karena itu kuputuskan untuk duduk dan melihatnya sebentar. Tidak lama, seorang laki-laki tua datang ke dojo dan mulai memberi aba-aba pada para murid. Dia benar-benar sangat ramah dan tersenyum pada siapapun, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia adalah instruktur kepala. Hari itu, aku melihat Master Funakoshi dan karate untuk pertama kalinya. Aku menyukainya dan karena itu aku ingin mencoba karate pada latihan berikutnya, karena dengan pengalamanku di kendo seharusnya karate akan lebih mudah. Pada latihan berikutnya, dua hal yang terjadi telah mengubah hidupku; Pertama, aku benar-benar telah lupa dengan kendo, dan kedua, aku menemukan bahwa seluruh teknik karate ternyata tidak mudah dikerjakan. Sejak hari itu hingga sekarang, aku tidak pernah kehilangan semangat untuk berusaha menguasai teknik karate-do.”
Begitulah, Nakayama kemudian mulai menjalani latihan karate di Takushoku yang terkenal paling berat dan melelahkan. Saat itu hanya ada dua macam latihan karate, yaitu memukul makiwara sekitar 1000 kali dan mengerjakan satu macam kata 50-60 kali. Latihan yang membosankan namun menuntut fisik dan semangat yang prima itu berlangsung selama 5 jam. Akibatnya tidak banyak murid yang mampu bertahan, hingga dalam waktu 6 bulan hanya tersisa sedikit saja. Nakayama terus bertahan dan mengerjakan seluruhnya tanpa mengeluh.
Setahun setelah Nakayama bergabung dengan klub karate, latihan kumite mulai diperkenalkan. Tahun 1933 berturut-turut gohon kumite (5 teknik), sanbon kumite (3 teknik) dan ippon kumite (1 teknik) mulai diajarkan. Nakayama yang sebelumnya telah belajar kendo tidak begitu kesulitan dengan latihan model baru ini. Tahun 1934 kumite setengah bebas (jiyu ippon kumite) diajarkan dan ternyata mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa. Model kumite ini adalah inovasi dari Yoshitaka Funakoshi yang terinspirasi dari latihan kendo. Sayangnya Nakayama saat itu telah pergi ke Cina hingga tidak begitu lama merasakan jiyu ippon kumite. Saat itu latihan kumite dianggap sebagai pengusir kebosanan dengan latihan Funakoshi yang hanya fokus pada kihon dan kata saja.
Tahun 1937 menjadi tahun yang melelahkan namun menggembirakan bagi Nakayama. Saat itu Nakayama berhasil lulus dari Takushoku namun harus pergi ke Cina sebagai wakil pertukaran pelajar dengan Universitas Peking. Nakayama dipilih karena termasuk pemuda yang pandai, apalagi sebelumnya telah belajar bahasa Cina di sela kesibukan karatenya. Saat akan kembali ke Jepang, Nakayama ternyata harus menundanya karena bekerja untuk pemerintah Cina selama beberapa waktu. Tahun 1946 Nakayama baru kembali ke Jepang, setahun setelah negara itu mendapat mimpi buruk akibat kalah perang. Saat itulah Nakayama mendapati kenyataan pahit dengan banyak rekannya di dojo telah tewas. Meski sulit, Nakayama berusaha mengumpulkan mereka yang pernah aktif berlatih karate dan mencoba mengorganisir latihan seperti sebelum perang. Tahun 1947 Nakayama menjadi instruktur kepala di Takushoku menggantikan Funakoshi. Upaya Nakayama berhasil mengembalikan reputasi Takushoku sebagai yang paling aktif dalam karate sesama dojo universitas.
Angin perubahan dunia karate Jepang terjadi tahun 1949 saat dibentuk Japan Karate Association (JKA). Organisasi ini muncul setelah beberapa murid senior Funakoshi menginginkan satu wadah yang resmi karate. Lebih jauh untuk menyatukan seluruh praktisi karate Jepang yang tercerai berai pasca perang. Meskipun dalam JKA Funakoshi bertindak sebagai guru besar kehormatan, namun usia yang telah lebih dari 80 tahun membuatnya tidak mungkin bertindak sebagai instruktur. Karena itulah Nakayama dipilih sebagai instruktur kepala mewakili Funakoshi. Tidak lama sesudahnya, tahun 1952 bagian pendidikan jasmani di Takushoku meminta bantuannya sebagai staf pengajar. Posisi itu adalah awal karirnya, karena di masa mendatang Nakayama menjadi kepala di divisi tersebut.
Setelah Funakoshi meninggal dunia, Nakayama berperan besar dalam proses awal JKA hingga menjadi besar seperti sekarang. Selain sebagai instruktur kepala, Nakayama melakukan banyak riset dalam karate. Agaknya posisi yang dekat dengan dunia akademis membuat Nakayama tidak kesulitan dengan hal itu. Hasilnya adalah apa yang terlihat dalam JKA moderen saat ini tampil sebagai organisasi karate yang terbesar di dunia. Ada tiga hal utama yang dianggap sebagai inovasi terbaik dari Nakayama, yaitu: menyebarkan karate ke penjuru dunia, program pelatihan calon instruktur JKA dan kompetisi karate. Meski banyak mendapat repon positif, seluruhnya program itu masih menyisakan pro dan kontra bahkan hingga kini.
Untuk mendukung promosi Shotokan JKA, Nakayama menerbitkan banyak buku karate. Diantaranya adalah “Dynamic Karate” (1965, 2 volume), Best Karate (1977, 11 volume), “Katas of Karate” (5 volume) dan “Superior Karate” (11 volume). (bersambung)
Sumber : http://www.fokushotokan.com/
Masatoshi Nakayama adalah salah satu tokoh awal karate Shotokan. Namanya terkenal karena merubah fungsi karate sebagai kompetisi olah raga, sebuah cita-cita yang tidak pernah diinginkan oleh Funakoshi yang menggunakan karate sebagai “do”. Dilahirkan di Prefektur Yamaguchi tanggal 13 April 1913, Nakayama masih mempunyai hubungan dengan klan Sanada yang legendaris. Keluarga Nakayama secara turun-temurun menguasai bela diri tradisional Jepang. Naotoshi (ayahnya) belajar judo sedangkan Naomichi (kakeknya) terkenal sebagai instruktur kendo ternama. Antusias pada bela diri agaknya mengalir dalam darah Nakayama yang juga berlatih kendo dan judo sejak anak-anak.
Saat usianya beranjak remaja, Nakayama pindah ke Taiwan untuk meneruskan sekolahnya. Sebagai anak muda yang bersemangat, Nakayama terlibat dalam banyak kegiatan klub seperti atletik, renang, tennis dan ski. Meski sangat sibuk Nakayama tidak melupakan latihan kendonya. Sang kakek sangat gembira melihat cucunya menggeluti bela diri yang sama dengannya. Dirinya berharap agar kelak Nakayama akan mengikuti jejaknya sebagai instruktur kendo. Namun ternyata hal lain justru ada dalam benak Nakayama. Belajar di Taiwan agaknya menimbulkan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk pergi Cina. Namun saat itu tidak mudah mencapainya karena dibutuhkan biaya yang tinggi. Nakayama kemudian memilih Universitas Takushoku untuk mewujudkan impiannya. Saat itu lulusan Takushoku memang banyak dikirim ke negara Asia untuk bekerja atau sebagai wakil Jepang.
Tahun 1932 diam-diam Nakayama mengikui tes masuk di Universitas Takushoku dan berhasil lulus. Nakayama sangat beruntung karena Takushoku terkenal sebagai universitas dengan koleksi bela diri tradisional Jepang yang lengkap. Dengan demikian dirinya tidak perlu susah-susah melanjutkan latihan kendonya. Saat jadwal latihan untuk seluruh kegiatan klub akhirnya diterbitkan, Nakayama ternyata keliru membaca jadwal latihan kendo yang terbalik dengan karate. Begitu datang ke dojo, Nakayama baru menyadari bahwa dirinya hadir di hari yang salah. Meski kecewa, Nakayama tidak langsung pulang, melainkan ingin melihat latihan karate dari dekat.
“…Di surat kabar aku telah membaca tentang karate, namun aku tidak begitu banyak mengetahuinya, karena itu kuputuskan untuk duduk dan melihatnya sebentar. Tidak lama, seorang laki-laki tua datang ke dojo dan mulai memberi aba-aba pada para murid. Dia benar-benar sangat ramah dan tersenyum pada siapapun, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia adalah instruktur kepala. Hari itu, aku melihat Master Funakoshi dan karate untuk pertama kalinya. Aku menyukainya dan karena itu aku ingin mencoba karate pada latihan berikutnya, karena dengan pengalamanku di kendo seharusnya karate akan lebih mudah. Pada latihan berikutnya, dua hal yang terjadi telah mengubah hidupku; Pertama, aku benar-benar telah lupa dengan kendo, dan kedua, aku menemukan bahwa seluruh teknik karate ternyata tidak mudah dikerjakan. Sejak hari itu hingga sekarang, aku tidak pernah kehilangan semangat untuk berusaha menguasai teknik karate-do.”
Begitulah, Nakayama kemudian mulai menjalani latihan karate di Takushoku yang terkenal paling berat dan melelahkan. Saat itu hanya ada dua macam latihan karate, yaitu memukul makiwara sekitar 1000 kali dan mengerjakan satu macam kata 50-60 kali. Latihan yang membosankan namun menuntut fisik dan semangat yang prima itu berlangsung selama 5 jam. Akibatnya tidak banyak murid yang mampu bertahan, hingga dalam waktu 6 bulan hanya tersisa sedikit saja. Nakayama terus bertahan dan mengerjakan seluruhnya tanpa mengeluh.
Setahun setelah Nakayama bergabung dengan klub karate, latihan kumite mulai diperkenalkan. Tahun 1933 berturut-turut gohon kumite (5 teknik), sanbon kumite (3 teknik) dan ippon kumite (1 teknik) mulai diajarkan. Nakayama yang sebelumnya telah belajar kendo tidak begitu kesulitan dengan latihan model baru ini. Tahun 1934 kumite setengah bebas (jiyu ippon kumite) diajarkan dan ternyata mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa. Model kumite ini adalah inovasi dari Yoshitaka Funakoshi yang terinspirasi dari latihan kendo. Sayangnya Nakayama saat itu telah pergi ke Cina hingga tidak begitu lama merasakan jiyu ippon kumite. Saat itu latihan kumite dianggap sebagai pengusir kebosanan dengan latihan Funakoshi yang hanya fokus pada kihon dan kata saja.
Tahun 1937 menjadi tahun yang melelahkan namun menggembirakan bagi Nakayama. Saat itu Nakayama berhasil lulus dari Takushoku namun harus pergi ke Cina sebagai wakil pertukaran pelajar dengan Universitas Peking. Nakayama dipilih karena termasuk pemuda yang pandai, apalagi sebelumnya telah belajar bahasa Cina di sela kesibukan karatenya. Saat akan kembali ke Jepang, Nakayama ternyata harus menundanya karena bekerja untuk pemerintah Cina selama beberapa waktu. Tahun 1946 Nakayama baru kembali ke Jepang, setahun setelah negara itu mendapat mimpi buruk akibat kalah perang. Saat itulah Nakayama mendapati kenyataan pahit dengan banyak rekannya di dojo telah tewas. Meski sulit, Nakayama berusaha mengumpulkan mereka yang pernah aktif berlatih karate dan mencoba mengorganisir latihan seperti sebelum perang. Tahun 1947 Nakayama menjadi instruktur kepala di Takushoku menggantikan Funakoshi. Upaya Nakayama berhasil mengembalikan reputasi Takushoku sebagai yang paling aktif dalam karate sesama dojo universitas.
Angin perubahan dunia karate Jepang terjadi tahun 1949 saat dibentuk Japan Karate Association (JKA). Organisasi ini muncul setelah beberapa murid senior Funakoshi menginginkan satu wadah yang resmi karate. Lebih jauh untuk menyatukan seluruh praktisi karate Jepang yang tercerai berai pasca perang. Meskipun dalam JKA Funakoshi bertindak sebagai guru besar kehormatan, namun usia yang telah lebih dari 80 tahun membuatnya tidak mungkin bertindak sebagai instruktur. Karena itulah Nakayama dipilih sebagai instruktur kepala mewakili Funakoshi. Tidak lama sesudahnya, tahun 1952 bagian pendidikan jasmani di Takushoku meminta bantuannya sebagai staf pengajar. Posisi itu adalah awal karirnya, karena di masa mendatang Nakayama menjadi kepala di divisi tersebut.
Setelah Funakoshi meninggal dunia, Nakayama berperan besar dalam proses awal JKA hingga menjadi besar seperti sekarang. Selain sebagai instruktur kepala, Nakayama melakukan banyak riset dalam karate. Agaknya posisi yang dekat dengan dunia akademis membuat Nakayama tidak kesulitan dengan hal itu. Hasilnya adalah apa yang terlihat dalam JKA moderen saat ini tampil sebagai organisasi karate yang terbesar di dunia. Ada tiga hal utama yang dianggap sebagai inovasi terbaik dari Nakayama, yaitu: menyebarkan karate ke penjuru dunia, program pelatihan calon instruktur JKA dan kompetisi karate. Meski banyak mendapat repon positif, seluruhnya program itu masih menyisakan pro dan kontra bahkan hingga kini.
Untuk mendukung promosi Shotokan JKA, Nakayama menerbitkan banyak buku karate. Diantaranya adalah “Dynamic Karate” (1965, 2 volume), Best Karate (1977, 11 volume), “Katas of Karate” (5 volume) dan “Superior Karate” (11 volume). (bersambung)
Sumber : http://www.fokushotokan.com/
Langganan:
Postingan (Atom)
